
Lupa jadi manusia mungkin terdengar sederhana, tetapi inilah akar dari banyak kegelisahan hidup. Ada orang rajin ibadah tetapi hidupnya penuh rasa takut. Bekerja keras tanpa henti, namun hidupnya tetap terasa sempit. Sibuk berdoa setiap hari, tetapi pikirannya gelisah dan tidak pernah benar-benar tenang.
Jika dilihat dari luar, semuanya sudah dilakukan. Usaha ada. Ibadah ada. Doa ada. Namun mengapa ketenangan dan kelapangan hidup belum juga hadir? Masalahnya sering bukan kurang usaha. Masalahnya adalah lupa menjadi manusia seutuhnya.
Apa yang Membedakan Manusia dengan Makhluk Lain?
Yang membedakan manusia bukan makan, bukan tidur, dan bukan bekerja. Semua makhluk melakukannya. Yang membedakan manusia adalah pikiran dan kemampuan berpikir.
Hewan hidup dengan naluri. Manusia diberi kemampuan merenung, menimbang, memahami, dan mengambil keputusan secara sadar. Namun ironisnya, banyak orang hari ini lebih sering bereaksi daripada berpikir.
Ketika ada masalah, langsung panik. Ada kabar, langsung percaya. Mendapat kritik, langsung tersinggung. Saat muncul ketakutan, langsung mundur.
Semua terjadi spontan tanpa proses perenungan. Padahal dalam Al-Qur’an Allah berkali-kali mengingatkan bahwa tanda-tanda kebesaran-Nya hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang berpikir. Ini menunjukkan bahwa iman dan akal tidak pernah dipisahkan.
Lupa Jadi Manusia Menjadi Emosional
Sebagian orang mengira bahwa semakin beriman, semakin tidak perlu berpikir. Seolah-olah berpikir adalah bentuk keraguan. Padahal justru sebaliknya. Orang yang imannya matang akan semakin tenang karena ia memahami. Ia tidak mudah panik, tidak mudah terseret isu, dan tidak mudah dikuasai emosi. Ia menggunakan akalnya untuk memaknai setiap peristiwa.
Banyak kegelisahan muncul bukan karena kurang doa, tetapi karena pola pikir yang tidak terkendali. Pikiran melompat ke masa depan yang belum terjadi, menyesali masa lalu yang sudah selesai, lalu mengkhawatirkan hal-hal yang belum tentu nyata. Semua tekanan itu sebenarnya terjadi di dalam kepala sendiri. Inilah tanda ketika seseorang mulai lupa jadi manusia: ia hidup otomatis tanpa kesadaran.

Lupa Jadi Manusia Tidak Pernah Membawa Naik Level
Ketika seseorang berhenti menggunakan akal sehat, ia mudah menyalahkan keadaan. Ia merasa hidupnya berat, padahal yang berat adalah cara ia memaknai hidup. Ia merasa rezekinya jauh, padahal pikirannya yang sempit.
Perubahan hidup selalu dimulai dari perubahan cara berpikir. Allah menegaskan bahwa Dia tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada dalam diri mereka. Yang paling menentukan dalam diri manusia adalah pola pikirnya.
Jika cara berpikir tetap dipenuhi ketakutan, kecurigaan, dan emosi berlebihan, maka hasil hidup pun tidak akan banyak berubah. Tetapi ketika seseorang mulai berpikir dengan jernih, ia melihat masalah sebagai proses pembelajaran. Ia melihat ujian sebagai latihan kedewasaan.
Di sinilah pintu ketenangan mulai terbuka. Rezeki terasa lebih dekat karena hati tidak lagi sempit. Doa terasa hidup karena disertai pemahaman.
Baca ini juga : Rahasia Hidup Nikmat saat Berpikir Selaras
Mengembalikan Diri Menjadi Manusia Seutuhnya
Menjadi manusia seutuhnya berarti menggunakan akal secara sadar. Berhenti bereaksi berlebihan. Berhenti hidup dalam ketakutan yang diciptakan sendiri. Mulai bertanya sebelum percaya. Mulai merenung sebelum menyimpulkan.
Momentum seperti Ramadhan menjadi waktu terbaik untuk melatih hal ini. Bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan emosi, menahan reaksi, dan mengendalikan pikiran. Ramadhan adalah latihan untuk kembali menggunakan akal dengan benar.
Karena ketika manusia kembali berpikir dengan benar, hidupnya perlahan menjadi benar. Ketika cara memahami berubah, respons berubah. Ketika respons berubah, hasil pun ikut berubah.
Mungkin selama ini bukan hidup yang terlalu sulit. Bukan rezeki yang terlalu jauh. Bisa jadi kita hanya belum menggunakan hadiah terbesar dari Tuhan, yaitu pikiran yang sehat dan akal yang jernih.
Jangan sampai kita rajin beribadah, tetapi lupa jadi manusia. Manusia yang berpikir, memahami, dan bertanggung jawab atas cara ia memaknai hidupnya. Karena di situlah awal dari ketenangan, kelapangan, dan perubahan yang sesungguhnya.
